Wujudkan Demokrasi Berkualitas, Santriwati DH Putri Hadiri Undangan Bawaslu Kalsel di Hotel Aeris
Banjarbaru, (11/9/2024)– Di tengah kesibukan aktivitas pesantren, tujuh santriwati dari Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri mendapat pengalaman istimewa. Mereka diundang oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengikuti kegiatan Pengawasan Pemilihan Partisipatif, yang berlangsung selama tiga hari di Hotel Aeris, Banjarbaru. Acara ini merupakan bagian dari upaya Bawaslu dalam melibatkan generasi muda, terutama pelajar, sebagai pemilih yang kritis dan cerdas dalam menentukan masa depan bangsa.
Dalam kegiatan yang diadakan mulai tanggal 9 hingga 11 September 2024, para peserta diberikan wawasan mendalam tentang pentingnya peran pemilih muda dalam mewujudkan demokrasi yang berkualitas. Bawaslu meyakini bahwa pemuda, khususnya santri dan santriwati, memiliki potensi besar sebagai pemilih yang belum terkontaminasi oleh pengaruh politik pragmatis. Dengan membekali mereka dengan pengetahuan yang tepat, diharapkan mereka mampu berkontribusi secara objektif dalam setiap pemilihan.

Santriwati yang berpartisipasi berasal dari kelas XI Darul Hijrah Putri, yakni Diva Putri Fitria, Phialsa Zahra Akmalia, Alya Lisa Nafisah, Athiya Nuhasshofa, Alya Eka Nor Febiana, Raisya, dan Arina Zahwa. Ketujuh santriwati ini dipilih untuk mewakili pesantren mereka dalam acara yang mengusung tema “Peran Strategis Pelajar Sebagai Pemilih Muda untuk Mewujudkan Demokrasi yang Berkualitas.”
Bagi Diva Putri Fitria, salah satu peserta, kegiatan ini membuka matanya tentang pentingnya menjadi pemilih yang cerdas.
“Di pesantren, kami belajar banyak tentang nilai-nilai moral dan tanggung jawab sosial. Tetapi di sini, saya belajar bagaimana menjadi pemilih yang kritis, tidak mudah terpengaruh janji-janji politik yang manis,” ujarnya dengan antusias.
Selama acara, para peserta tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi juga diajak terlibat dalam diskusi interaktif dan simulasi pemilihan. Mereka diajarkan cara mengidentifikasi calon pemimpin yang memiliki integritas dan rekam jejak yang baik, bukan sekadar janji kosong. Hal ini penting, mengingat mereka akan segera berusia 17 tahun, usia yang memperbolehkan mereka berpartisipasi dalam pemilu.
Acara ini juga menekankan bahwa pemuda tidak hanya harus menjadi pemilih yang baik, tetapi juga mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang bertanggung jawab.

“Kami ingin menciptakan pemilih muda yang kritis dan selektif, tetapi lebih dari itu, kami ingin menanamkan mental pemimpin pada mereka,” kata salah satu pembicara dari Bawaslu.
Pemuda, menurut Bawaslu, memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan. Karena itu, mereka harus memiliki kesadaran politik yang tinggi dan independen. Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri, yang terkenal dengan pendidikan moral dan keagamaannya, dianggap sebagai lingkungan yang ideal untuk menanamkan nilai-nilai ini.
Setelah kegiatan ini berakhir, diharapkan santriwati Darul Hijrah Putri dapat menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dan menjadi agen perubahan di lingkungan mereka.
“Kami berharap para santriwati ini bisa menjadi teladan bagi teman-temannya di pesantren. Mereka tidak hanya bisa memilih dengan bijak, tetapi juga menginspirasi teman-temannya untuk peduli pada proses demokrasi,” ujar Ustazah Nurlaela, guru pembimbing yang turut mendampingi para santriwati.
Semangat yang ditunjukkan oleh para santriwati Darul Hijrah Putri ini memberikan harapan bahwa masa depan demokrasi Indonesia berada di tangan yang tepat. Dengan bimbingan yang baik dan pendidikan politik yang tepat, generasi muda ini diharapkan mampu memilih dan bahkan menjadi pemimpin yang membawa perubahan nyata bagi bangsa.
Demokrasi yang berkualitas tidak hanya tercipta dari proses politik yang baik, tetapi juga dari pemilih yang cerdas dan pemimpin yang berintegritas. Dan di Hotel Aeris Banjarbaru, para santriwati Darul Hijrah Putri mulai mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari masa depan tersebut. (Widi)